Sepi Malam dan Kerik Jengkerik di Beranda
Adalah dendang nyanyian rindu terlukis diam-diam
pada rangka langit dan bintang yang mendelik cemburu
sementara embun luruh perlahan menyentuh
pucuk rerumputan, kaca jendela, helai daun,
juga bening... mataku yang nanar menatap
setiap serpih kenangan menggigil dalam gelap
Ketika desah nafas tertahan di desir angin
yang lembut bertiup di selasar
kupagut segala perih lalu kubungkus rapi
pada sebuah sajak pilu
tentang angan tak tergapai
tentang cinta yang merana
tentang resah yang senantiasa membuncah
tentang mimpi-mimpi tak bertepi
dan tentang senyap yang kerap meratap
saat dini hari enggan mengusir
kunang-kunang yang berpendar sia-sia
pada gelap malam
ketika bayangmu muncul
dari sudut bulan separuh purnama
Adalah dendang nyanyian rindu terlukis diam-diam
pada rangka langit dan bintang yang mendelik cemburu
sementara embun luruh perlahan menyentuh
pucuk rerumputan, kaca jendela, helai daun,
juga bening... mataku yang nanar menatap
setiap serpih kenangan menggigil dalam gelap
Ketika desah nafas tertahan di desir angin
yang lembut bertiup di selasar
kupagut segala perih lalu kubungkus rapi
pada sebuah sajak pilu
tentang angan tak tergapai
tentang cinta yang merana
tentang resah yang senantiasa membuncah
tentang mimpi-mimpi tak bertepi
dan tentang senyap yang kerap meratap
saat dini hari enggan mengusir
kunang-kunang yang berpendar sia-sia
pada gelap malam
ketika bayangmu muncul
dari sudut bulan separuh purnama

Sampai Hari ini kesendirianku masih menerpa.
Hari ini tak ada cahaya. langit tertutup awan pekat
Dan aku masih disini. dalam penantian yang membayang
Membuai semua cerita bersenandung tentang waktu.
Dalam lamunan aku sendiri membuang masaku
hingga hari terakhirku”.
Hari ini tak ada cahaya. langit tertutup awan pekat
Dan aku masih disini. dalam penantian yang membayang
Membuai semua cerita bersenandung tentang waktu.
Dalam lamunan aku sendiri membuang masaku
hingga hari terakhirku”.











